Kota Cimahi, Kabar Pajajaran – Dalam upaya menurunkan angka kerentanan masyarakat terhadap bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi menerapkan strategi edukasi unik dengan menyasar satuan kependudukan terkecil, yakni keluarga. Salah satu fokus utamanya adalah memberdayakan ibu rumah tangga yang diposisikan sebagai “katalisator rumah tangga” dalam menghadapi ancaman bencana.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan pendekatan “semua matra” untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Program Keluarga Tangguh Bencana menjadi ujung tombak karena keluarga dianggap sebagai unit pertama yang harus mampu melakukan evakuasi mandiri saat terjadi keadaan darurat, seperti banjir atau gempa bumi.
“Kami mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga sebagai katalisator karena merekalah yang sehari-hari berada di rumah, paling mengenali kondisi bangunan, dan tahu persis jalur evakuasi terbaik bagi keluarganya,” ujar Fithriandy. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan angka keselamatan (survive score) masyarakat Cimahi akan meningkat secara signifikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca juga: Tingkatkan Ketangguhan Warga, BPBD Kota Cimahi Siapkan Delapan Titik EWS Pantau Muka Air Tahun Ini
Selain ibu rumah tangga, BPBD juga merangkul berbagai komunitas rentan lainnya, termasuk lansia, kelompok disabilitas seperti teman tuli, hingga pengurus rumah ibadah seperti masjid, gereja, dan pura. Edukasi ini mencakup hal-hal praktis, mulai dari mengenali arus genangan air hingga cara berlindung saat gempa bumi sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Keberhasilan edukasi berbasis komunitas ini tercermin dalam Indeks Ketahanan Daerah (IKD) Kota Cimahi yang kini menempati peringkat kedua terbaik di Jawa Barat setelah Kota Cirebon, dengan skor 0,78. Meski demikian, Fithriandy menekankan bahwa edukasi ini tidak boleh berhenti karena pergantian generasi menuntut sosialisasi yang berkesinambungan agar masyarakat tidak “bosan” dan tetap siaga.
“Generasi terus berputar, jadi edukasi ini harus terus berkelanjutan. Jangan sampai kita abai, karena jika bencana besar terjadi, semua pihak akan merasakan dampaknya,” pungkas Fithriandy.*** (Radit)






