KABAR PAJAJARAN – Investigasi Citizen Lab mengungkap dugaan penggunaan iklan digital untuk menyebarkan perangkat mata-mata atau spyware yang menargetkan sejumlah jurnalis Al Jazeera. Laporan tersebut menyebut perusahaan teknologi periklanan asal Israel, Discover-Tech, berperan dalam menayangkan iklan yang mengarahkan perangkat pengguna ke malware buatan Candiru.
Temuan ini memicu kecaman Al Jazeera Media Network. Jaringan media asal Qatar tersebut menilai serangan terhadap perangkat jurnalis sebagai ancaman serius terhadap kebebasan pers dan keamanan kerja jurnalistik.
Dalam pernyataannya, Al Jazeera menegaskan komitmennya untuk melindungi seluruh karyawan, perangkat, dan sistem internal. Mereka juga mendesak pihak berwenang untuk mengusut kasus tersebut serta meminta pertanggungjawaban pihak yang terlibat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Citizen Lab Ungkap Modus Spyware Lewat Iklan Digital
Menurut laporan Al Jazeera pada Jumat (16/10/2026), Citizen Lab dari University of Toronto menemukan indikasi infeksi spyware pada puluhan perangkat yang digunakan staf Al Jazeera.
Investigasi tersebut berawal dari pemeriksaan internal tim teknologi Al Jazeera. Pada 2024, tim menemukan aktivitas jaringan yang tidak biasa pada perangkat sejumlah jurnalis. Pola serupa berlanjut hingga 2025 sehingga Al Jazeera meminta Citizen Lab menyelidiki dugaan serangan siber tersebut.
Analisis terhadap log jaringan membantu peneliti mengidentifikasi pola serangan dan cara pelaku menyusupkan perangkat lunak berbahaya melalui iklan digital.
Citizen Lab menyimpulkan bahwa Discover-Tech membeli iklan yang telah disisipi mekanisme pengiriman malware. Iklan tersebut kemudian mengarahkan perangkat target menuju spyware yang dikembangkan Candiru.
Spyware Zero-Click Tidak Memerlukan Klik Pengguna
Salah satu aspek paling mengkhawatirkan dari serangan ini adalah penggunaan metode zero-click. Teknik tersebut memungkinkan pelaku menyusupkan perangkat lunak berbahaya tanpa meminta pengguna mengeklik tautan atau mengunduh berkas tertentu.
Dalam skenario yang diungkap investigasi, iklan yang telah terinfeksi dapat menjadi jalur masuk spyware ketika tampil pada perangkat sasaran. Dengan demikian, pengguna berisiko menjadi target tanpa menyadari adanya aktivitas mencurigakan.
Metode ini menyulitkan pengguna untuk mengenali serangan karena mereka tidak harus melakukan tindakan yang lazim dikaitkan dengan penipuan digital, seperti membuka tautan mencurigakan atau memasang aplikasi dari sumber tidak dikenal.
Spyware Dapat Mencuri Dokumen hingga Merekam Mikrofon
Spyware yang menjadi sorotan dalam investigasi ini memiliki kemampuan mengumpulkan beragam informasi sensitif dari perangkat korban.
Perangkat lunak tersebut dapat mengambil dokumen, berkas pribadi, cookie peramban, penanda atau bookmark, serta kredensial yang tersimpan. Kemampuannya juga mencakup perekaman ketukan tombol, pengambilan tangkapan layar, dan pengumpulan input dari mikrofon maupun kamera web.
Selain itu, spyware dapat mengakses surel serta pesan dari sejumlah platform komunikasi. Kemampuan tersebut berpotensi membuka informasi pribadi, komunikasi jurnalistik, hingga dokumen yang berkaitan dengan sumber berita.
Pelaku juga dapat menyamarkan aktivitasnya dengan memanfaatkan saluran komunikasi terenkripsi dan mengirimkan data curian dalam potongan kecil secara bertahap. Teknik ini membantu mereka mengurangi kemungkinan sistem keamanan mendeteksi lalu lintas data yang mencurigakan.
Discover-Tech dan Candiru Jadi Sorotan Investigasi
Laporan Citizen Lab menyoroti hubungan antara iklan digital yang dibeli Discover-Tech dan perangkat mata-mata buatan Candiru.
Candiru merupakan perusahaan teknologi pengawasan asal Israel yang masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat pada 2021 terkait aktivitas siber berbahaya. Teknologi pengawasan yang dikaitkan dengan perusahaan tersebut sebelumnya juga menjadi sorotan karena dugaan penggunaannya terhadap jurnalis, kelompok oposisi, dan individu lain di berbagai negara.
Namun, temuan mengenai jalur distribusi spyware melalui iklan digital menjadi perhatian tersendiri. Kasus ini memperlihatkan bagaimana ekosistem periklanan daring berpotensi disalahgunakan untuk menjangkau perangkat target dalam skala luas.
Peneliti memperkirakan pengembangan dan penggunaan perangkat mata-mata kelas tersebut membutuhkan biaya hingga jutaan dolar. Teknologi semacam ini dapat memberikan kemampuan pengawasan yang jauh melampaui perangkat lunak berbahaya biasa.
Iklan Discover-Tech Juga Muncul di Jaringan Lembaga Penting
Dalam laporan terpisah, perusahaan keamanan periklanan Confiant yang berbasis di New York menyebut iklan Discover-Tech juga muncul pada jaringan yang digunakan sejumlah lembaga penting.
Laporan itu menyinggung jaringan yang berkaitan dengan Pentagon, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Temuan tersebut memperluas perhatian terhadap potensi risiko penyalahgunaan iklan digital, terutama ketika iklan menjangkau jaringan yang berkaitan dengan lembaga strategis dan informasi sensitif.
Meski demikian, kemunculan iklan pada jaringan lembaga tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh perangkat di jaringan itu terinfeksi spyware.
Al Jazeera Desak Penyelidikan dan Perlindungan Jurnalis
Al Jazeera menegaskan bahwa serangan siber terhadap jurnalis bukan sekadar persoalan keamanan perangkat. Ancaman tersebut juga dapat membahayakan kerahasiaan komunikasi, perlindungan sumber berita, dan kebebasan media dalam menjalankan tugasnya.
Kasus ini kembali menyoroti risiko yang dihadapi jurnalis ketika meliput isu sensitif. Penyusupan ke perangkat pribadi maupun perangkat kerja dapat membuka akses terhadap catatan investigasi, dokumen, dan komunikasi dengan narasumber.
Temuan Citizen Lab juga menjadi pengingat bahwa iklan digital tidak selalu bebas dari risiko keamanan. Pengguna dan organisasi perlu memperkuat pembaruan perangkat, pemantauan jaringan, serta mekanisme deteksi ancaman untuk mengurangi potensi serangan siber.
Al Jazeera menyatakan akan terus memperkuat perlindungan terhadap karyawan dan sistemnya. Mereka juga mendesak pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut untuk dimintai pertanggungjawaban. ***(Ant)






