BANDUNG, KABAR PAJAJARAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung memetakan 27 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau 2026. BPBD menggunakan hasil pemetaan tersebut sebagai dasar menyusun strategi mitigasi sekaligus mempercepat penanganan jika krisis air mulai melanda sejumlah wilayah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, mengatakan seluruh kecamatan di Kabupaten Bandung memiliki potensi mengalami kekeringan. Namun, setiap wilayah memiliki tingkat kerawanan yang berbeda karena kondisi geografis dan ketersediaan sumber air tidak sama.
“Sejumlah kecamatan sudah masuk dalam peta wilayah rawan untuk kebutuhan antisipasi. Namun, seluruh kecamatan tetap memiliki potensi mengalami kekeringan,” kata Diki di Bandung, Rabu (8/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BPBD Analisis Kondisi Sumber Air dan Riwayat Kekeringan
BPBD menyusun peta kerawanan dengan menganalisis berbagai indikator. Tim menilai kondisi sumber air, karakteristik wilayah, lahan pertanian, serta riwayat kekeringan pada musim kemarau sebelumnya.
Hasil analisis menunjukkan delapan kecamatan berpotensi mengalami penurunan debit mata air maupun sungai. Wilayah tersebut meliputi Rancabali, Pasirjambu, Ciwidey, Pangalengan, Kertasari, Majalaya, Cicalengka, dan Nagreg.
Selain itu, BPBD memperkirakan kekurangan air bersih akan mengancam Kecamatan Soreang, Ibun, Rancaekek, Cileunyi, Cimaung, Dayeuhkolot, Margaasih, Katapang, Margahayu, dan Pameungpeuk.
Di sektor pertanian, BPBD juga memprediksi gangguan irigasi akan memengaruhi Kecamatan Kutawaringin, Cangkuang, Pacet, Paseh, Cikancung, Baleendah, Bojongsoang, Cimenyan, serta Ciparay. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau.
BPBD Antisipasi Puncak Kemarau
BPBD mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam menyusun langkah antisipasi. BMKG memperkirakan musim kemarau mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
Menurut Diki, potensi kekeringan masih dapat berlanjut hingga September. Karena itu, BPBD terus memantau perkembangan cuaca sekaligus mengevaluasi kondisi sumber air di setiap kecamatan.
Distribusi Air Bersih Jadi Prioritas
BPBD telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kecamatan, dan instansi terkait untuk menghadapi musim kemarau tahun ini. Koordinasi tersebut bertujuan mempercepat penanganan apabila masyarakat mulai mengalami krisis air bersih.
Selain itu, BPBD menyiapkan mobil tangki untuk memasok air bersih ke wilayah yang membutuhkan. Petugas akan menyalurkan bantuan sesuai tingkat kebutuhan di setiap kecamatan.
“Sesuai arahan pimpinan, kami menyiapkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki ke kecamatan yang membutuhkan sebagai langkah antisipasi,” ujar Diki.
BPBD juga mengajak masyarakat menghemat penggunaan air, menjaga sumber air di lingkungan masing-masing, serta segera melaporkan kepada pemerintah setempat jika mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak kekeringan selama puncak musim kemarau. ***(Chq)





