KABAR PAJAJARAN— Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) terus memperkuat perannya sebagai garda terdepan literasi digital di tengah derasnya arus informasi di ruang siber. Upaya ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan internet oleh masyarakat, termasuk anak dan remaja.
Langkah konkret dilakukan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat yang menggelar bimbingan teknis bersama komunitas informasi masyarakat peduli informasi dan literasi digital di Desa Cimekar, Kabupaten Bandung. Melalui kegiatan tersebut, Diskominfo Jabar meningkatkan kapasitas KIM dalam menyampaikan informasi publik sekaligus memperkuat literasi digital masyarakat desa.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, Agung Yansusan ST, S.Ag, MUD, menegaskan bahwa KIM memiliki peran strategis sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat di era digital. Ia mendorong KIM agar lebih aktif memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan informasi pembangunan secara cepat, akurat, dan mudah dipahami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Agung, KIM tidak hanya bertugas menyebarkan informasi, tetapi juga mengedukasi warga agar mampu memilah informasi yang benar serta menolak hoaks dan disinformasi. Ia menilai, penguatan kapasitas KIM di tingkat desa dan kelurahan menjadi kunci terciptanya ekosistem informasi yang sehat.

Selain literasi digital umum, perhatian kini tertuju pada perlindungan anak di ruang digital melalui implementasi kebijakan PP Tunas. Komisioner KPID Jawa Barat, Dadan Hendaya, S.S., M.M, menekankan pentingnya pengawasan dan pendampingan anak saat mengakses internet.
Ia menjelaskan bahwa ancaman di ruang digital semakin beragam, mulai dari perundungan siber, penipuan online, hingga paparan konten yang tidak layak bagi anak. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak, termasuk keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah, untuk bergerak bersama menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak.
KIM diharapkan mengambil peran aktif dalam menyosialisasikan penggunaan internet yang sehat dan aman bagi anak. Edukasi tersebut mencakup penguatan literasi digital keluarga serta kampanye internet sehat di lingkungan masyarakat.
Sejumlah program kolaboratif mulai digagas, mulai dari pelatihan literasi digital keluarga, kampanye internet sehat, hingga pelibatan generasi muda sebagai agen edukasi digital. Langkah ini dinilai penting agar pengawasan anak di ruang digital tidak hanya bersifat kontrol, tetapi juga membangun komunikasi dan kepercayaan di lingkungan keluarga.
Ke depan, KIM diharapkan mampu menghadirkan ekosistem informasi yang sehat di masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, ruang digital diharapkan menjadi tempat yang aman, produktif, dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak dan remaja. ***(Chq)






