Kota Cimahi, Kabar Pajajaran – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul rilis terbaru dari BMKG mengenai pergeseran puncak musim hujan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya jatuh di akhir Januari atau pertengahan Februari, puncak musim hujan tahun ini diprediksi baru akan terjadi pada bulan Maret mendatang.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, mengungkapkan bahwa saat ini Kota Cimahi berada dalam status Siaga Darurat Geohidrometeorologi. Status ini ditetapkan untuk merespons ancaman cuaca ekstrem yang skalanya cukup masif, bahkan berdampak pada hampir sepertiga Pulau Jawa. Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiagakan personel, peralatan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk berada pada level kesiapsiagaan yang lebih tinggi.
“Hampir di semua kecamatan dan 15 kelurahan di Kota Cimahi memiliki titik-titik rawan bencana hidrometeorologi,” ujar Fithriandy. Potensi ancaman yang diwaspadai meliputi tanah longsor sporadis, genangan air, luapan sungai, hingga banjir bandang. Salah satu kejadian yang menjadi sorotan adalah banjir bandang di Kelurahan Utama yang beberapa waktu lalu terdampak hingga mengenai sekitar 130 KK atau 1.300 jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca juga: Pencarian Warga Hanyut di Sungai Cijagra Dilanjutkan, Tim Sisir Radius Satu Kilometer
Pemerintah Kota Cimahi juga terus memperkuat sistem peringatan dini sebagai bagian dari strategi mitigasi. Pada tahun ini, Cimahi berencana memasang delapan titik Early Warning System (EWS) untuk memantau muka air secara real-time. Fithriandy menekankan bahwa selain infrastruktur, ketangguhan masyarakat dalam melakukan evakuasi mandiri sangat krusial untuk menekan risiko jatuhnya korban.
Masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan limpasan air, diimbau untuk mengenali jalur evakuasi dan memahami karakteristik arus genangan di lingkungan masing-masing. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan angka keselamatan (survive) warga saat menghadapi potensi bencana yang mungkin muncul selama puncak cuaca ekstrem berlangsung.*** (Radit)






