JAKARTA – Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat mendorong Rebana Metropolitan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat. Pemerintah menilai kawasan tersebut memiliki ruang pengembangan yang luas serta sejumlah infrastruktur strategis untuk menopang investasi dan aktivitas ekonomi.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menyampaikan hal itu dalam JCC Meeting terkait kerja sama Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk pengembangan kawasan Rebana di Ruang Graha Sawala, Gedung Ali Wardhana, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Herman menyebut Rebana memiliki posisi penting dalam strategi pembangunan Jawa Barat menuju Indonesia Emas 2045. Menurut dia, kawasan tersebut dapat menjadi alternatif pusat pertumbuhan karena sejumlah wilayah metropolitan di Jawa Barat mulai menghadapi keterbatasan ruang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ingin mewujudkan Jawa Barat istimewa menuju Indonesia maju, salah satu kuncinya adalah bagaimana kita mengembangkan Rebana. Kawasan ini sangat potensial dan masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan,” ujar Herman.
Potensi Industri hingga Bandara Kertajati
Herman melihat Rebana memiliki berbagai modal untuk membangun ekosistem ekonomi yang kuat. Kawasan industri, jaringan transportasi, pelabuhan, sektor pertanian, pariwisata, serta potensi investasi menjadi bagian dari kekuatan tersebut.
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati juga memiliki posisi strategis dalam pengembangan kawasan. Pemerintah dapat mengintegrasikan bandara dengan aktivitas industri dan sektor logistik sehingga menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas.
Pengembangan kawasan bandara juga dapat mendukung sektor Maintenance, Repair and Overhaul (MRO). Sementara itu, keberadaan pelabuhan dan infrastruktur transportasi dapat memperkuat konektivitas kawasan industri dengan pasar domestik maupun internasional.
“Bandara dan pelabuhan sudah tersedia. Infrastruktur mulai terbangun. Tinggal bagaimana seluruh simpul ini kita integrasikan sehingga benar-benar menjadi ekosistem ekonomi yang produktif,” kata Herman.
Masterplan Rebana Harus Berlanjut ke Eksekusi
Dalam kerja sama dengan JICA, Pemprov Jabar tengah mendorong penyusunan masterplan pengembangan Rebana. Herman meminta seluruh pihak tidak menjadikan dokumen tersebut sekadar rencana pembangunan.
Ia ingin pemerintah daerah langsung menerjemahkan hasil perencanaan menjadi program yang dapat berjalan di lapangan.
“Masterplan jangan hanya bagus di atas kertas. Kita perlu membedahnya bersama, memberikan feedback, memastikan cocok dengan kondisi di lapangan, kemudian kita eksekusi bersama,” katanya.
Herman juga meminta tujuh kabupaten/kota yang masuk dalam kawasan Rebana aktif memberikan masukan. Pemerintah daerah dinilai paling memahami kebutuhan dan potensi wilayah masing-masing.
Pemprov Jabar dan pemerintah pusat, lanjut Herman, dapat memperkuat koordinasi, fasilitasi, serta sinkronisasi kebijakan agar pengembangan kawasan berjalan lebih terarah.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak ke Masyarakat
Herman menekankan bahwa pembangunan Rebana tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan investasi. Pemerintah juga harus memastikan peningkatan aktivitas ekonomi berdampak pada penurunan kemiskinan dan pengangguran.
“Rebana harus inklusif. Pertumbuhan ekonominya harus diikuti penurunan kemiskinan dan pengangguran. Jangan sampai terjadi pertumbuhan ekonomi, tetapi masyarakat di sekitar kawasan industri tidak ikut menikmati manfaatnya,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan investasi yang masuk mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting agar warga lokal dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan industri.
Selain investasi, Herman mengingatkan empat komponen utama yang menopang pertumbuhan ekonomi, yakni belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, investasi, dan ekspor.
Belanja pemerintah, misalnya, dapat diarahkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
Sementara itu, pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi dan ketersediaan kebutuhan pokok.
“Kalau inflasi terkendali, daya beli masyarakat terjaga. Kalau daya beli terjaga, konsumsi masyarakat bisa bertumbuh. Ini penting karena konsumsi memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian,” jelas Herman.
Infrastruktur dan Konektivitas Jadi Perhatian
Pemprov Jabar juga masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah dalam pengembangan Rebana. Beberapa di antaranya mencakup pengelolaan sampah, kualitas infrastruktur, konektivitas antardaerah, serta optimalisasi BIJB Kertajati.
Herman mendorong peningkatan kualitas akses menuju kawasan industri dan pusat pertumbuhan baru. Menurutnya, infrastruktur yang memadai dapat memberikan kepastian bagi investor sekaligus mempermudah mobilitas masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan kawasan industri di Rebana menunjukkan potensi investasi yang cukup besar. Pemerintah berharap investasi tersebut terus berkembang dan memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
JICA Diharapkan Perkuat Model Pengembangan Rebana
Kerja sama dengan JICA diharapkan memberikan tambahan perspektif dan pengalaman dalam membangun kawasan ekonomi yang terintegrasi.
Herman ingin Jawa Barat tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan pemerataan manfaat pembangunan.
Ia menilai keberhasilan Rebana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah pusat, Pemprov Jabar, tujuh pemerintah daerah, dunia usaha, serta mitra internasional perlu menyatukan visi agar pembangunan kawasan berjalan dalam satu arah.
Dengan integrasi tersebut, Rebana diharapkan mampu berkembang menjadi ekosistem ekonomi baru yang menghubungkan industri, transportasi, investasi, pariwisata, pertanian, hingga perdagangan.






